Kamis, 09 April 2020

MASA DEWASA MADYA


REVIEW JURNAL KELOMPOK 11
MASA DEWASA MADYA

Pada umumnya usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia antara 40 – 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya akan ditandai oleh perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun dewasa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan tersebut lebih lambat dari pada masa lalu, namun garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pada usia 60an sengaja atau tidak sengaja usia 60-an dianggap sebagai garis batas antara usia lanjut dengan usia madya.
Menurut  Monks, Knoers dan Heditono (2005) dan Hurlock (2005) bahwa usia dewasa madya merupakan masa yang sulit dalam rentang kehidupan seseorang, dan seberapa besar usaha seseorang untuk menyesuaikan diri, hasilnya akan tergantung pada dasar-dasar yang ditanamkan pada awal kehidupan seseorang tersebut, terutama harapan yang sesuai dengan peran yang diterima masyarakat.
Karakteristik Usia Dewasa Madya
1.      Periode usia yang menakutkan
2.      Periode transisi
3.      Masa Penyesuaian Kembali     
4.      Menderita stres (Time Of Stress)
5.      Usia yang membahayakan (Dangerous Age)
6.      Usia yang canggung
7.      Masa berprestasi (Time of Achievement)
8.      Masa evaluasi (Time of Evaluation)
9.      Masa kebosanan
10.  Masa rumah menjadi kosong (Empty Nest)
            Pada masa dewasa madya terjadi perubahan fungsi fisik yang tak mampu berfungsi seperti sedia kala, dan beberapa organ tubuh tertentu mulai kehilangan (menurun) fungsinya. Melihat dan mendengar merupakan dua perubahan yang paling menyusahkan paling banyak tampak dalam dewasa tengah. Daya akomodasi mata untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina akan mengalami penurunan tajam antara usia 40 tahun keatas.
Karena pada usia tersebut aliran darah pada mata juga berkurang. Pendengaran mungkin juga mulai menurun pada usia ini yaitu mulai memasuki usia 40. Meskipun kemampuan untuk mendengar suara-suara bernada rendah tidak begitu kelihatan. Laki-laki biasanya kehilangan sensitifitasnya terhadap suara bernada tinggi lebih dahulu daripada perempuan. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih besarnya pengalaman laki-laki terhadap suaru gaduh dalam pekerjaan.
Usia pertengahan dipenuhi tanggung jawab berat dan berbagai peran yang menyita waktu dan energi, seperti menjalankan rumah tangga, departemen atau perusahaan, memiliki anak dan mungkin memelihara orangtua yang sudah uzur atau memulai karir baru.
              Usia madya merupakan periode yang sangat ditakuti, diantaranya adalah banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya, yaitu kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik. Dimana individu merasa takut akan terjadinya perubahan perubahan yang terjadi dalam dirinya terutama fisiknya.
Havighurst (dalam Hurlock, 2012: 10) menyebutkan beberapa tugas perkembangan yang berkaitan dengan generativitas pada dewasa madya yaitu:
1.      Mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga Negara
2.      Membantu remaja belajar untuk menjadi dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.
3.      Mengembangkan kegiatan-kegiatan di waktu senggang
4.      Menghubungan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu
5.      Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiologis
6.      Mencapai dan mempertahankan prestasi dalam karier pekerjaan.
7.      Menyesuaikan diri dengan orang yang lebih tua.
    Sarafino (2006) bahwa berinteraksi dengan orang lain dapat memodifikasi atau mengubah individu mengenai kejadian negatif menjadi positif. Dukungan sosial didefinisikan sebagai keberadaan orang lain yang dapat diandalkan untuk memberi bantuan, semangat, penerimaan dan perhatian, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan hidup bagi individu yang bersangkutan. Sarafino mengemukakan bahwa dukungan sosial mengacu pada akan kenyamanan, kepedulian, penghargaan atau bantuan yang diterima individu dari orang lain atau kelompok dalam masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa dukungan sosial adalah bantuan yang didapat individu dari orang lain atau kelompok, baik yang berupa bantuan materi maupun non materi, yang dapat menimbulkan perasaan nyaman secara fisik dan psikologis bagi individu yang bersangkutan.
    Dalam kehidupan rumah tangga dan karier dalam kehidupan masa dewasa. Dalam berkeluarga juga terdapat masa yang sulit dan bermasalah dikatakan sebagai masa yang sulit dan bermasalah dalam kehidupan berluarga. Hal ini dikarenakan seseorang itu harus mengadakan penyesuaian dengan peran barunya (perkawinan vs. pekerjaan) dan tanggung jawabnya dalam rumah tangganya dan kariernya dalam bekerja sehingga dapat membentuk satu kesatuan yang harmonis dan berjalan dengan lancar.
memiliki identitas yang jelas dan kepribadian yang mantap.
            Sebaliknya, jika seorang dewasa memiliki nilai-nilai non agama, itupun akan dipertahankannya sebagai pandangan hidupnya. Jika beragaman orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan nilai-nilai yang dimilikinya beragama bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan. Sejalan dengan tingkat perkembangan usinya, maka sikap beragamaan pada orang dewasa memiliki ciri-ciri:
a)      Menerima kebenaran agama berdasarkan pemikiran yang matang bukan, sekedar ikut-ikutan.
b)      Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku .
c)      Bersikat positif terhadap ajaran dan norma-norma.
d)     Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab.
e)      Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
f)       Bersifat lebih kritis terhadap materi dalam ajaran agama.
g)      Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing.
h)      Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaaan dengan kehidupan social.

Perubahan yang terjadi pada usia menopause terbagi dalam pre menopause berumur antara 40-50 tahun dan menopause berumur 50-65 tahun. Sebagian besar wanita mulai mengalami gejala menopause pada usia 40-an dan puncaknya tercapai pada usia 50 tahun.
Dalam psikologi perkembangan masa usia madya dapat dikategorikan dalam dua jenjang yaitu pada usia 40- 50 tahun disebut dengan masa dewasa madya dini, sedangkan usia 50-65 disebut dewasa madya usia lanjut. Dimana pada usia madya merupakan masa yang sangat ditakuti, kebanyakan wanita yang memasuki masa menopause tidak akan mengakui bahwa mereka telah mencapai masa tersebut. Selain itu masa dewasa madya merupakan masa transisi, transisi senantiasa berarti penyesuaian diri terhadap minat, nilai, dan pola perilaku yang baru. Masa dewasa madya juga merupakan masa stress, usia canggung, masa evaluasi, masa sepi, serta masa jenuh. banyak wanita yang mengalami kejenuhan pada akhir usia 40an.












                                                                                                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Jurnal Kelompok 1 dan Film

Review Tulis Tangan jurnal kelompok 1 dan review film