Review Tulis Tangan jurnal kelompok 1 dan review film
Rabu, 29 April 2020
Kamis, 09 April 2020
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PADA MASA USIA LANSIA
REVIEW
JURNAL KELOMPOK 12
PSIKOLOGI
PERKEMBANGAN PADA MASA USIA LANSIA
Lansia merupakan salah satu fase kehidupan dimana
pada fase ini mulai terjadi adanya
perubahan fisik serta kemunduran fungsi dalam tubuh dan termasuk tahap terakhir
dalam perkembangan manusia.
Krisis
menurut KBBI adalah setiap peristiwa yang sedang terjadi
(diperkirakan) mengarah pada situasi tidak setabil dan berbahaya yang
mempengaruhi individu, kelompok, komunitas, atau seluruh masyarakat. Krisis
dianggap membawa perubahan negative dalam urusan keamanan, ekonomi, politik,
sosial, atau lingkungan, terutama ketika krisis terjadi tiba-tiba, dengan
sedikit atau tanpa peringatan.
Masa krisis hidup meliputi:
1. Perkembangan fisik dan motorik
2. Perkembangan sosial dan kognitif
3. Perkembangan agama dan moral
Status kesehatan lansia yang menurun seiring dengan
bertambahnya usia akan memengaruhi kualitas hidup lansia. Bertambahnya usia
akan diiringi dengan timbulnya berbagai penyakit, penurunan fungsi tubuh,
keseimbangan tubuh dan risiko jatuh. Menurunnya status kesehatan lansia ini
berlawanan dengan keinginan para lansia agar tetap sehat, mandiri dan dapat
beraktivitas seperti biasa misalnya mandi, berpakaian, berpindah secara
mandiri.
Kemampuan anak untuk bertanggung jawab, percaya
diri, jujur, gigih dan memiliki kepekaan yang positif bentuk dari orang tua.
Ketika orang tua telah memasuki masa lansia, diterapkannya sistem pendidikan
oleh anak merupakan sebuah kepuasan yang tidak ternilai harganya. Berbeda
dengan lansia yang gagal dalam mendidik anak, hal ini akan menjadi beban bagi
lansia di hari tuannya. Lansia sangat senang dan merasakan kepuasan. Ketika
jauh dengan cucu informan merasa bingung dan sedih,. Kehadiran cucu merupakan
harapan yang di tunggu-tunggu dalam kehidupan lansia.
Kesehatan itu mahal harganya sehingga tidak
seorangpun ingin sakit. Tetapi, sering penyakit datang dengan tiba-tiba hanya
karena manusia lalai menjaga kesehatannya
- Mengatur
makanan dan pola maka
- Menjaga
kesehatan pribadi
- Mengatur
istirahat (tidur yang cukup)
- Berolahraga
- Tidak
banyak pikiran (stress)
Pada hakikatnya kematian adalah suatu hal yang pasti
datangnya. Dalam berbagai ajaran agama kematian dianggap sebagai pintu gerbang
menuju dunia yang lebih kekal sifatnya. Kesiapan menghadapi kematian berarti keadaan lansia yang telah siap
menghadapi kematian dan siap melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk
menghadapi kematian sehingga tidak mendatangkan penyesalan apapun saat kematian
itu datang.
Postrpower syndrome adalah gejala ketidak setabilan
psikis seseorang yang muncul pada dirinya setelah hilangnya jabatan atau
kekuasaan. Gangguan ini terjadi pada orang yang merasa dirinya sudah tidak
dianggap dan tidak dihormati lagi. Menurut Supemo individu yang mengalami
postpower syndrome menunjukkan adanya gangguan baik sikap maupun perilaku.
Uswatun hasanah perlu diterapkan pada lingkungan
dari sekitar kita agar disetiap saat anak melihat dan bercermin pada tingkah
laku manusia yang ada disekitarnya, sehingga perilaku yang baik dapat meresap
kedalam hatinya dan tumbuh berkembang bersama dengan fisiknya.
Membimbing untuk melakukan ibadah sehingga
diharapkan hidupnya bermakna mempersiapkan diri dalam menghadapi kematiannya
dan berharap menghantarkannya para lansia ini kepada kematian yang khusnul
khotimah.
MASA DEWASA MADYA
REVIEW
JURNAL KELOMPOK 11
MASA
DEWASA MADYA
Pada
umumnya usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia antara
40 – 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya akan ditandai oleh perubahan jasmani
dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik,
sering pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun dewasa ini banyak yang
mengalami perubahan-perubahan tersebut lebih lambat dari pada masa lalu, namun
garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk
pensiun pada usia 60an sengaja atau tidak sengaja usia 60-an dianggap sebagai
garis batas antara usia lanjut dengan usia madya.
Menurut Monks, Knoers dan Heditono (2005) dan Hurlock
(2005) bahwa usia dewasa madya merupakan masa yang sulit dalam rentang
kehidupan seseorang, dan seberapa besar usaha seseorang untuk menyesuaikan
diri, hasilnya akan tergantung pada dasar-dasar yang ditanamkan pada awal
kehidupan seseorang tersebut, terutama harapan yang sesuai dengan peran yang
diterima masyarakat.
Karakteristik Usia
Dewasa Madya
1.
Periode usia yang menakutkan
2.
Periode transisi
3.
Masa Penyesuaian Kembali
4.
Menderita stres (Time Of Stress)
5.
Usia yang membahayakan (Dangerous Age)
6.
Usia yang canggung
7.
Masa berprestasi (Time of Achievement)
8.
Masa evaluasi (Time of Evaluation)
9.
Masa kebosanan
10.
Masa rumah menjadi kosong (Empty Nest)
Pada masa dewasa madya terjadi
perubahan fungsi fisik yang tak mampu berfungsi seperti sedia kala, dan
beberapa organ tubuh tertentu mulai kehilangan (menurun) fungsinya. Melihat dan
mendengar merupakan dua perubahan yang paling menyusahkan paling banyak tampak
dalam dewasa tengah. Daya akomodasi mata untuk memfokuskan dan mempertahankan
gambar pada retina akan mengalami penurunan tajam antara usia 40 tahun keatas.
Karena pada usia
tersebut aliran darah pada mata juga berkurang. Pendengaran mungkin juga mulai
menurun pada usia ini yaitu mulai memasuki usia 40. Meskipun kemampuan untuk
mendengar suara-suara bernada rendah tidak begitu kelihatan. Laki-laki biasanya
kehilangan sensitifitasnya terhadap suara bernada tinggi lebih dahulu daripada
perempuan. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih besarnya pengalaman laki-laki
terhadap suaru gaduh dalam pekerjaan.
Usia
pertengahan dipenuhi tanggung jawab berat dan berbagai peran yang menyita waktu
dan energi, seperti menjalankan rumah tangga, departemen atau perusahaan,
memiliki anak dan mungkin memelihara orangtua yang sudah uzur atau memulai
karir baru.
Usia madya merupakan periode yang
sangat ditakuti, diantaranya adalah banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan
tentang usia madya, yaitu kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan
fisik. Dimana individu merasa takut akan terjadinya perubahan perubahan yang
terjadi dalam dirinya terutama fisiknya.
Havighurst
(dalam Hurlock, 2012: 10) menyebutkan beberapa tugas perkembangan yang
berkaitan dengan generativitas pada dewasa madya yaitu:
1.
Mencapai tanggung jawab sosial sebagai
warga Negara
2.
Membantu remaja belajar untuk menjadi
dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.
3.
Mengembangkan kegiatan-kegiatan di waktu
senggang
4.
Menghubungan diri sendiri dengan
pasangan hidup sebagai suatu individu
5.
Menerima dan menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan fisiologis
6.
Mencapai dan mempertahankan prestasi
dalam karier pekerjaan.
7.
Menyesuaikan diri dengan orang yang
lebih tua.
Sarafino (2006) bahwa berinteraksi dengan
orang lain dapat memodifikasi atau mengubah individu mengenai kejadian negatif
menjadi positif. Dukungan sosial didefinisikan sebagai keberadaan orang lain
yang dapat diandalkan untuk memberi bantuan, semangat, penerimaan dan
perhatian, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan hidup bagi individu yang
bersangkutan. Sarafino mengemukakan bahwa dukungan sosial mengacu pada akan
kenyamanan, kepedulian, penghargaan atau bantuan yang diterima individu dari
orang lain atau kelompok dalam masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa
dukungan sosial adalah bantuan yang didapat individu dari orang lain atau
kelompok, baik yang berupa bantuan materi maupun non materi, yang dapat
menimbulkan perasaan nyaman secara fisik dan psikologis bagi individu yang
bersangkutan.
Dalam kehidupan rumah tangga dan karier
dalam kehidupan masa dewasa. Dalam berkeluarga juga terdapat masa yang sulit
dan bermasalah dikatakan sebagai masa yang sulit dan bermasalah dalam kehidupan
berluarga. Hal ini dikarenakan seseorang itu harus mengadakan penyesuaian
dengan peran barunya (perkawinan vs. pekerjaan) dan tanggung jawabnya dalam
rumah tangganya dan kariernya dalam bekerja sehingga dapat membentuk satu
kesatuan yang harmonis dan berjalan dengan lancar.
memiliki identitas yang jelas dan kepribadian yang
mantap.
Sebaliknya,
jika seorang dewasa memiliki nilai-nilai non agama, itupun akan
dipertahankannya sebagai pandangan hidupnya. Jika beragaman orang dewasa
memiliki perspektif yang luas didasarkan nilai-nilai yang dimilikinya beragama
bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan.
Sejalan dengan tingkat perkembangan usinya, maka sikap beragamaan pada orang
dewasa memiliki ciri-ciri:
a)
Menerima kebenaran agama berdasarkan
pemikiran yang matang bukan, sekedar ikut-ikutan.
b)
Cenderung bersifat realis, sehingga
norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku .
c)
Bersikat positif terhadap ajaran dan
norma-norma.
d)
Tingkat ketaatan beragama didasarkan
atas pertimbangan dan tanggung jawab.
e)
Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang
lebih luas.
f)
Bersifat lebih kritis terhadap materi
dalam ajaran agama.
g)
Sikap keberagamaan cenderung mengarah
kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing.
h)
Terlihat adanya hubungan antara sikap
keberagamaaan dengan kehidupan social.
Perubahan
yang terjadi pada usia menopause terbagi dalam pre menopause berumur antara
40-50 tahun dan menopause berumur 50-65 tahun. Sebagian besar wanita mulai
mengalami gejala menopause pada usia 40-an dan puncaknya tercapai pada usia 50
tahun.
Dalam
psikologi perkembangan masa usia madya dapat dikategorikan dalam dua jenjang
yaitu pada usia 40- 50 tahun disebut dengan masa dewasa madya dini, sedangkan
usia 50-65 disebut dewasa madya usia lanjut. Dimana pada usia madya merupakan
masa yang sangat ditakuti, kebanyakan wanita yang memasuki masa menopause tidak
akan mengakui bahwa mereka telah mencapai masa tersebut. Selain itu masa dewasa
madya merupakan masa transisi, transisi senantiasa berarti penyesuaian diri
terhadap minat, nilai, dan pola perilaku yang baru. Masa dewasa madya juga
merupakan masa stress, usia canggung, masa evaluasi, masa sepi, serta masa
jenuh. banyak wanita yang mengalami kejenuhan pada akhir usia 40an.
JURNAL PSIKOLOGI MASA DEWASA AWAL
REVIEW
JURNAL KELOMPOK 10
JURNAL
PSIKOLOGI MASA DEWASA AWAL
1.
Kematangan
Pada Masa Dewasa Awal
Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri
terhadap pola-pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial baru. Orang
dewasa awal diharapkan memainkan peran baru, seperti suami atau istri, orang
tua, dan pencari nafkah, keinginan-keinginan baru, mengembangkan sikap-sikap
baru, dan nilai-nilai baru sesuai tugas barunya. Penyesuaian diri masa dewasa
merupakan periode khusus dan yang paling sulit dari rentang kehidupan manusia.
Dalam konteks
perkembangan individu, kematangan psikologi adalah berkembangnya individu
berdasarkan prinsip Life-Span
Perspective. Life-Span Perspective merupakan prinsip dimana perkembangan
adalah suatu proses yang terus menerus, tahap demi tahap seperti mata rantai
yang salaing mengait. Havighurst mengatakan bahwa dunia modern saat ini,
membutuhkan individu-individu yang matang dan kompleks. Artinya, individu harus
memiliki kemandirian intelektual, toleran terhadap ambiguitas dan tidak
dikendalikan oleh rasa takut dan tidak kaku. Individu yang matang adalah
pribadi yang memiliki kemampuan problem
solving. Kedewasaan atau kematangan adalah suatu keadaan bergerak maju
kearah kesempurnaan. Oleh karena itu, seseorang yang disebut dewasa adalah
individu yang telah siap menerima kedudukan dalam masyarakat.
2.
Perkembangan
Kognitif, Sosial, Moral, Agama, Karier dan Perencanaan Pembentukan Keluarga
a.
Perkembangan
Kognitif
Schaie membagi tahap
perkembangan kognitif dewasa awal menjadi beberapa tahap, yaitu:
1)
Tahap menguasai pengetahuan dan
ketrampilan (acquisitive, 6-25 tahun)
2)
Tahap pencapaian prestasi (achieving
stage, 24-34 tahun)
3)
Tahap tanggung jawab (responsibility
stage)
b.
Perkembangan
Karier
Super
(dalam Aci, dkk, 2009) mendefinisikan kematangan karier sebagai keberhasilan
individu untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangan karier yang khas bagi
tahap perkembangan tertentu, kematangan karier memiliki beberapa karakteristik,
menurut Super ( dalam Sharf, 2006) pribadi yang matang karier memiliki
kemampuan dalam aspek merencanakan karier, mengeksplorasi karier dengan sumber
daya yang di miliki, kemampuan menggunakan pengetahuan dan pemikiran dalam
membuat keputusan karier, memiliki pengetahuan tentang dunia kerja, pengetahuan
mengenai pekerjaan yang diminati dan pengetahuan tentang kemampuan (Value)
diri.
c.
Perkembangan
Sosial
Untuk
pertama kalinya orang dewasa awal akan mengalami keterpencilan sosial, yang di
sebut oleh Erickson sebagai krisis ketersaingan (isolasion crisis). Betapa berat tantangan yang harus di hadapi
dewasa awal, karena menurut John P. Dworetzki menyebut usia dewasa awal sebagai
masa timbulnya banyak masalah dalam kehidupan sosial. Mereka harus menghadapi
beberapa keputusan penting yang berhubungan dengan kehidupan sosial, seperti
hubungan dengan lawan jenis, anak-anak, teman seprofesi, persahabatan baru dan
tugas lainya. Maka dewasa awal di sebut sebagai sosial yang belum matang dalam
hubungan sosial sehingga pertumbuhan jiwa sosialnya masih tetap berkembang
sejalan usia kedewasaanya.
d.
Perkembangan
Moral
John
Locke dan J.B Watson mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
moral manusia, yaitu:
1)
Pengalaman, sebagai proses belajar
2)
Keluarga, meliputi:
a.
Sikap atau keadaan social ekonomi
keluarga
b.
Posisi dalam keluarga
c.
Sifat anggota kelurga lain
3)
Kebudayaan, meliputi:
a.
Bila anak hidup di suasana yang
memalukan, dia belajar untuk selalu merasa bersalah.
b.
Bila orang berada di lingkungan
orang-orang yang kritis, dia akan memiliki argument yang relevan saat bicara.
e.
Perkembangan
Agama
Usia dewasa awal dari
kelas menengah akan lebih tertarik dan aktif dalam melakukan kegiatan keagamaan
dari pada mereka yang berada di bawah dan diatasnya. Pada umumnya orang dewasa
awal mempunyai minat agama, walaupun tahun-tahun pertama minatnya masih kecil.
Perubahan dalam kepercayaan, sikap, dan perilaku religious di kalangan orang
dewasa secara integral berkaitan dengan perubahan struktur kepribadian. Orang
dewasa muda memilih arah hidup yang akan diambil, dengan menghadapi godaan
berbagai kemungkinan pilihan. orang dewasa muda berawal ketika krisis identitas
masa muda berlalu. Dengan kurang mengetahui siapa diri mereka, orang dewasa
muda memasuki hubungan baru karena tanggungjawab yang bertambah, yang merupakan
pengalaman dengan konfli-konfliknya sendiri.
f. Perencanaan Membentuk Keluarga pada
Masa Dewasa Awal
3.
Menemukan
Jati Diri Pada Masa Dewasa Awal
Hurlock
menguraikan secara ringkas ciri-ciri dewasa yang menonjol dalam masa-masa
dewasa awal, sebagai berikut:
a. Masa
dewasa awal sebagai masa pengaturan.
Pada
masa saat ini menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa. Seorang pria mulai
mencari pola hidup, mengembangkan perilaku dan menetapkan pilihan pekerjaan
sebagai kariernya, dan wanita mulai menerima tanggung jawab sebagai ibu dan
pengurus rumah tangga.
b. Masa
dewasa awal sebagai usia reproduktif.
Menjadi
orang tua merupakan salah satu peran yang paling penting dalam hidup orang
dewasa.
c. Masa
dewasa awal sebagai masa bermasalah.
Dalam
tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seseorang.
d. Masa
dewasa awal sebagai masa ketegangan emosional.
Berusaha
memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi, tetapi mereka agak bingung dan
mengalami keresahan emosional.
e. Masa
dewasa awal sebagai masa keterasingan social.
Keterasingan
terjadi kerena perubahan lingkungan kelompok sosialnya dan peran yang harus
dimainkan.
f. Masa
dewasa awal sebagai masa komitmen.
g. Masa
dewasa awal merupakan masa ketergantungan.
Setelah
mencapai status dewasa, banyak individu yang yang masih tergantung pada
orang-orang tertentu dalam jangka waktu
yang berbeda-beda.
h. Masa
dewasa awal sebagai masa perubahan nilai.
i. Masa
dewasa awal sebagai masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru.
j. Masa
dewasa awal sebagai masa kreatif.
4.
Kemandirian
dalam Bersikap, Bertindak, Ekonomi Pada Masa Dewasa Awal
Menurut
Havighurst (Turner dan Helms, 1995) mengemukakan tugas-tugas perkembangan
dewasa awal, diantaranya :
a)
Memilih teman bergaul (sebagai calon
suami atau istri)
b)
Belajar hidup bersama dengan suami istri
c)
Mulai hidup dalam keluarga atau hidup
berkeluarga
d)
Mengelola rumah tangga
e)
Mulai bekerja dalam suatu jabatan
f)
Mulai bertangung jawab sebagai warga
Negara secara layak
5.
Pendidikan
di Usia Dewasa Awal
Orang
dewasa dalam belajar mempunyai ciri atau karakteristik berbeda dengan anak
–anak antara lain karakteristiknya sebagai berikut:
a.
Pembelajaran lebih mengarah ke suatu
proses pendewasaan, seseorang akan berubah dari bersifat tergantung menuju ke
arah memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri, dan memerlukan pengarahan
diri walaupun dalam keadaan tertentu mereka bersifat tergantung.
b.
Karena prinsip utama adalah memperoleh
pemahaman dan kematangan diri untuk bisa survive, maka pembelajaran yang lebih
utama menggunakan eksperimen, diskusi, pemecahan masalah, latihan, simulasi dan
praktek lapangan.
c.
Orang dewasa akan siap belajar jika
materi latihanya sesuai dengan apa yang ia rasakan sangat penting dalam memecahkan masalah kehidupanya, oleh karena itu
menciptakan kondisi belajar, alat-alat, serta prosedur akan menjadikan orang
dewasa siap belajar. Dengan kata lain program belajar harus disusun sesuai
dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya dan urutan penyajian harus
disesuaikan dengan kesiapan peserta didik.
d.
Pengembangan kemampuan di orientasikan
belajar terpusat kepada kegiatanya. Dengan kata lain cara menyusun pelajaran
berdasarkan kemampuan-kemampuan apa atau penampilan yang bagaimana yang diharapkan
ada pada peserta didik (Tisnowati Tamat, 1985 :20-22 ).
6. Tanggung Jawab Sosial dan Moral
Dewasa Awal Terhadap Orang Tua
Pembelajaran
orang dewasa difokuskan pada pembedaan tugas-tugas hidup dan peran sosial yang
berkaitan dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya kepada keluarga ataupun kedua
orang tua. Saat mendengar suara azan dan qamat, mengandung harapan dari orang
tua, keluarga atau kerabat, agar anak bila dewasa selalu menghormati orang
tuanya, tidak melupakan orang tuanya. Jadi, di sini diharapkan suatu tanggung
jawab moral dari sang anak terhapap orang tuanya yang memelihara dan mendoakan
sepanjang hidupnya.
7.
Partisipasi
dan Kontribusi Terhadap Masyarakat dan Bangsa
Contoh
kongkrit kontribusi dan partisipasi sebagai mahasiswa dewasa awal dalam membangun
bangsa dan Negara yaitu:
a)
Bangga menggunakan produk Indonesia
buatan anak bangsa
b)
Mentaati peraturan yang berlaku di
Indonesia sebagai warga Negara yang baik.
c)
Membayar pajak sebagai kewajiban warga
Negara
d)
Menggunakan hak demokrasi dengan
sebaik-baiknya, contohnya dalam pemilu presiden maupun pilkada.
e)
Menajaga kebersihan lingkungan dimana
saja.
f)
Menjujung norma-norma yang berlaku.
g)
Menghormati hak antar masyarakat
h)
Mendahulukan kepentingan umum dari pada
kepentingan pribadi.
i)
Bersikap jujur yang merupakan sikap
kecil yang perlu di miliki setiap orang agar perilaku menyimpang seperti
korupsi, yang mementingkan kepentingan pribadi tidak tumbuh dalam karakter
bangsa.
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MASA REMAJA
REVIEW JURNAL KELOMPOK 9
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MASA REMAJA
1. Definisi Remaja
Remaja
adalah suatu masa di mana:
• Individu
berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
• Individu
mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak
menjadi dewasa.
• Terjadi
peralihan dari ketergantungan social-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang
relatif lebih mandiri (Muang-man, 1980:9)
Proses penyesuian diri menuju kedewasaan,
ada 3 tahap perkembangan remaja:
• Remaja
Awal 12-15 tahun (early adolescence
• Remaja
Madya 15-18 tahun (middle adolescence)
• Remaja
akhir19-22 tahun (late adolescence)
2.
Urutan Perubahan-Perubahan Fisik
Pada anak perempuan
• Pertumbhan
tulang-tulang ( badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang
• Pertumbuhan
payudara
• Tumbuh
bulu berwarna gelap di kemaluan.
• Mencapai
pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya.
• Haid
• Tumbuh
bulu-bulu ketiak
Pada anak laki-laki
• Pertumbuhan
tulang-tulang
• Tumbuh
bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap
• Awal
perubahan suara
• Pertumbuhan
tinggi badan mencapai tingkat maksimal setiap tahunya
• Tumbuh
rambut-rambut halus di wajah (kumis, jenggot)
• Tumbuh
bulu ketiak
• Tumbuh
bulu di dada
3.
Perkembangan Kognitif
Menurut
Piaget masa remaja sudah mencapai tahap operasi formal (operasi)
kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan).Remaja secara mental telah
dapat berpikir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak.
4.
Perkembangan Sosial
Pada
masa remaja perkembangan sosial yaitu kemampuan untuk memahami orang lain.
Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut
sifat-sifat pribadi, minat nilai-nilai maupun perasaanya.
5.
Perkembangan Moral
Melalui
pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orangtua, guru, teman sebaya, atau
orang dewasa lainya, tingkat moralitas
remaja sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia anak.
6.
Pergaulan Remaja
Selama
masa remaja siswa mengalami perubahan fisik, perilaku, dan sikap yang
berlangsung sangat pesat. Siswa cenderung bersifat labil dan membutuhkan
pengarahan secara intensif baik yang
datang dari guru maupun orang tua.
6.
Dekadensi Moral Remaja
Kemerosotan
moral atau yang sering kita dengar dengan istilah “Dekadensi moral” sekarang ini tidak hanya melanda
kalangan dewasa, melainkan juga telah menimpa kalangan pelajar yang menjadi
generasi penerus bangsa.
7.
Ramaja Putus Sekolah
Remaja
putus sekolah adalah anak yang berusia 12 sampai dengan 21 tahun yang karena
suatu sebab orang tuanya kurang mampu dan melalaikan kewajibannya ataupun
karena faktor lain, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhannya dengan wajar
terutama dalam hal pendidikan.
8.
Brokenhome
Perceraian
didalam keluarga menimbulkan kerugian pada banyak pihak terutama pada
anak.Perceraian dapat diartikan sebagai pecahnya suatu unit keluarga atau
retaknya struktur peran sosial saat satu atau beberapa anggota keluarga tidak
dapat menjalankan kewajiban peran secukupnya.
9.
Pengaruh era global terhadap
perkembangan remaja
pengaruh
globalisasi sosial budaya pada era teknologi informasi dan komunikasi yang
paling rentan adalah remaja, sebab remaja bisa mengakses sumber dari internet
dan sebagainya secara langsung.Berdasarkan
penjelasan tersebut maka perlu remaja mendapatkan pengawasan dari pihak orang
tua, guru, dan masyarakat.
10. Pendidikan Masa Remaja
Pendidikan
para remaja sebagai generasi penerus bangsa adalah tanggungjawab orangtua,
bangsa, dan negara. Tujuan pendidian jelas yakni agar kelak para remaja
memiliki wawasan, ilmu pengetahuan, budi pekerti, dan ketrampilan yang
dibutuhkan untuk mengarungi masa depan mereka yang masih terbentang luas dan
jauh
Langganan:
Postingan (Atom)


