REVIEW JURNAL KELOMPOK 4
MASA DALAM KANDUNGAN (PRENATAL)
DAN MASA KELAHIRAN
1.
Tahapan
dan Proses Perkembangan dalam Kandungan
Masa
prenatal (masa dalam kandungan) ditandai dengan proses pembentukan sistem
jaringan dan struktur organ-organ fisik. Proses pertumbuhan dan perkembangan dimulai sejak terjadinya
konsepsi antara spermatozoon dengan sel telur yang merupakan bakal calon menjadi
manusia. urutan perkembangan dalam masa prenatal telah pasti dan tidak dapat
diubah, yaitu mulai dari kepala, mata, tubuh, tangan, kaki dan alat kelamin.
Fase
atau tahapan masa prenatal dibedakan menjadi tiga fase, yaitu: fase germinal (2
minggu pertama), fase embrional (6-8 minggu berikutnya), dan fase fetal (mulai
minggu ke-8 sampat saat dilahirkan). Waktu kehamilan berlangsung biasanya
selama 270 hari kurang lebih 40 minggu setelah hari pertama menstruasi
berakhir.
Adapun
fase atau tahapan masa prenatal menurut pandangan islam yaitu tahap nutfah, tahap
‘Alaqah (segumpal darah), tahap Mudhghah (segumpal daging), tahap pemberian
nyawa (Nafkh Ar-Ruh)
2.
Faktor
Pengaruh Terhadap Janin dalam Kandungan
a.
Faktor
pembawaan (hereditas)
b.
Faktor
lingkungan
c.
Asupan
gizi
3.
Resiko
dalam Masa Kandungan
a.
Periode zigot
·
Kelaparan
·
Kurangnya persiapan uterine
·
Implantasi di tempat yang salah
b.
Periode embrio
·
Keguguran
·
Ketidakteraturan Perkembangan
c.
Periode fetal
·
Keguguran
·
Prematur
4.
Proses
dan Teknik Melahirkan
a.
Proses
melahirkan
Persalinan
atau proses melahirkan dibagi menjadi 4 tahap. Tahapan persalinan tersebut
dibagai menjadi yaitu, sebagai berikut:
1.
Kala
I, kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan
serviks, hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Kala I dinamakan juga kala
pembukaan. Normalnya kala I berlangsung salama 12-14 jam.
2.
Kala
II, kala II disebut juga dengan kala pengeluaran oleh karena itu kekuatan his
dan kekuatan mengedan diperlukan guna janin didorong keluar sampai lahir.
3.
Kala
III, Kala III disebut juga kala uri. Pada kala ini plasenta terlepas dari
dinding uterus dan janin dilahirkan.
4.
Kala
IV, kala IV mulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam kemudian. Dalam kala
tersebut ibu akan diobservasi apakah terjadi perdarahan post partum.
b.
Teknik
melahirkan
Berdasarkan caranya, persalinan dibagi
menjadi 4 cara, yaitu:
1.
Persalinan spontan adalah persalinan
yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri.
2.
Persalinan normal adalah proses
kelahiran janin pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) pada janin letak
memanjang, presentasi belakang kepala yang disusul dengan pengeluaran plasenta
dan seluruh proses kelahiran itu berakhir dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa
tindakan pertolongan buatantan pakomplikasi.
3.
Persalinan anjuran adalah persalinan
yang terjadi jika kekuatan yang diperlukan untuk persalianan yang ditimbulkan
dari 7luar dengan jalan rangsangan, yaitu merangsang otot rahim berkontraksi
seperti dengan menggunakan prostaglandin, oksitosin, tau memecahkan ketuban.
Persalinan tindakan adalah persalinan
yang tidak dapat berjalan normal secara spontan atau tidak berjalan sendiri,
oleh karena itu terdapat indikasi adanya penyulitan persalinan sehingga
persalinan dilakukan dengan memberikan tindakan menggunakan alat bantu.
5.
Tips
Melahirkan yang Sehat
a.
Kebutuhan
oksigen
Pemenuhan
kebutuhan oksigen selama proses melahirkan perlu diperhatiakan oleh tenaga
kesehatan terutama pada kala I dan II, dimana oksigen yang ibu hirup sangat
penting artinya untuk oksigenasi janin melalui plasenta. Suplai oksigen yang
tidak kuat dapat menghambat kemajuan persalinan dan dapat mengganggu
keselamatan janin. Oksigen yang baik dapat diupayakan dengan pengaturan
sirkulasiudara yang baik selama persalinan.
b.
Kebutuhan
cairan dan nutrisi
Kebutuhan
cairan dan nutrisi merupaakan kebutuhan yang harus diperhatiakan dengan baik
oleh ibu selama proses persalinan. Asupan makanan yang cukup merupakan sumber
dari glukasa darah yang merupakan sumber utama energy untuk sel-seltubuh. Kadar
gula darah yang rendah akan mengakibatkan hipoglikemia. Sedangkan asupan cairan
yang kurang akan mengakibatkan dehidrasi pada ibu saat persalinan.
c.
Kebutuhan
eliminasi
Pemenuhan
kebutuhan eliminasi salama persalinan perlu difasilitasi oleh tenaga kesehatan
untuk membantu kemajuan persalinan dan meningkatkan kenyamanan pasien. Anjurkan
ibu untuk berkemih secara spontan sesering mungkin atau minimal setiap 2 jam
sekali selama persalianan.
d.
Kebutuhan
hygiene (kebersihan personal)
Kebutuhan
hygiene (kebersihan) ibu bersalin perlu diperhatikan tenaga medis dalam
memberikan asuhan pada ibu bersalin, karena kebersihan yang baik dapat membuat
ibu merasa aman dan relax, mengurangi kelelahan, mencegahinfeksi, mencegah
gangguan sirkulasi darah, mempertahankan integeritas pada jaringan dan
memelihara kesejahteraan fisik dan psikis.
e.
Posisi
Dengan
memahami proses persalian yang tepat maka diharapkan dapat menghindari
intervensi yang tidak perlu sehingga
dapat meningkatkan persalinan normal. Semakin normal proses kelahiran semakin
aman kelahiran bayi itu sendiri.
6.
Perkiraan
Waktu Kelahiran
Lama rara-rata periode kelahiran adalah
38 minggu atau 266 hari, tetapi hanya sedikit bayi yang lahir tepat pada waktunya.
Ada kalanya bayi lahir lebih awal dan ada kalanya lebih lambat dari waktu
rata-rata tersebut. Bayi yang lahir lebih awal disebut premature, sedangkan
yang lebih lambat disebut pos matur.
7.
Upaya
Memilih Jenis Kelamin
Untuk
memperbesar kemungkinan mendapat bayi jenis kelamin laki-laki, dianjurkan agar
hubungan seksual dilakukan tepat pada saat istri dalam masa ovulasi. Posisi
hubungan seksual yang dianjurkan, istri memunggungi dada suami. Posisi ini,
menurut Dokter Oswari (1960) lebih menjamin tersimpannya cairain sperma selain
berdekatan sekali dengan bagian leher rahim istri. Dengan demikian, kromosom Y
yang kemampuan berenangnya lebih cepat, praktis akan cepat pula mencapai sel
telur. Sebuah studi di Prancis menganjurkan, bila menginginkan bayi laki-laki,
disarankan agar lebih banyak mengkonsumsi makanan asin, daging, serta makanan
yang banyak mengandng kalium seperti pisang, apricot, dan seledri.
Bila kita
menginginkan bayi perempuan, hubungan seksual dilakukan sampai batas dua atau
tiga hari sebelum masa ovulasi. Dengan demikian, hanya kromosom X yang lebih
bertahan lama sementara menunggu sel telur terlepas dari ovarium. Sebelum hubungan
seks ual dilakukan, dianjurkan untuk mengkonsumsi cairan asam. Di sini,
dianjurkan pula agar penetrasi pria tidak terlalu dalam, sehingga diharapkan
sel sperma kromosom X saja yang berkesempatan tetap hidup dan terus berenang
menuju sel telur.
8.
Resiko
Melahirkan
a.
Resiko
melahirkan Caesar
1.
Resiko
jangka pendek
a)
Infeksi pada
bekas jahitan
b)
Infeksi Rahim
c)
Keloid
d)
Perdarahan
e)
Air Ketuban
Masuk ke Pembuluh Darah
f)
Pembekuan Darah
g)
Cedera Pembuluh
Darah
2.
Resiko
jangka panjang
a)
Masalah
Psikologis
b)
Pelekatan Organ
Bagian Dalam
c)
Pembatasan
Kehamilan
b.
Resiko
melahirkan normal
1.
Plasenta Previa
Plasenta previa adalah keadaan ketika ari-ari atau plasenta berada
dibawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir.
2.
Robekan Jalan
Lahir
Robekan
jalan lahir adalah penyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan.
Robekan dapat terjadi bersama dengan Antonia uteri. Perdarahan pascapersalinan
dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks
atau vagina.
3.
Retensio
Plasenta
Retensio
plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga melebihi waktu
30 menit setelah bayi lahir.
4.
Sisa Plasenta
Sisa plasenta
adalah suatu bagian dari plasenta, satu atau lebih tertinggal, maka uterus
tidak dapat berkontraksi secara efektif.
5.
Perdarahan
Pascapersalinan Tertunda (sekunder)
Perdarahan
terjadi jika mengalamai anemia berat dan terdapat tanda-tanda infeksi.
Perdarahan pascapersalinan yang lama atau tertunda mungkin menjadi tanda
terjadinnya metritis.
6.
Letak lintang
dan presentasi bahu
Presentasi ini terjadi jika sumbu panjang janin terletak melintang
dan bahu merupakan bagian yang menjadi presentasi
9.
Dampak
Kelahiran terhadap Status Keluarga, Ekonomi, Sosial, Budaya, Moral dan Agama
a. Dampak kelahiran terhadap status keluarga,
ekonomi dan sosial
Kajian dampak fertilitas (kelahiran)
terhadap ekonomi keluarga menurut beberapa ahli lebih diorientasikan perilaku
fertilitas pada masyarakat yang lebih maju (industri) dimana ekonomi material
menjadi orientasi hidup individu (Goldscheider, 1985). Artinya bahwa
modernisasi telah menyebabkan terjadinya transformasi struktual yaitu
pergeseran peran keluarga (domestik) menjadi peran yang diambil alih institusi
publik.
Anak tidak dilihat dalam kemanfaatan
secara sosial tetapi lebih dianggap beban ekonomi karena biaya (cost) yang
harus ditanggung berbanding lurus dengan jumlah anak yang dimiliki. Biaya yang
dimaksud adalah biaya yang harus diberikan kepada lembaga-lembaga formal
seperti pendidikan, kesehatan, pemenuhan kebutuhan hidup, peningkatan gizi
keluarga, dan seterusnya.
Weber menegaskan bahwa perilaku sosial
meripakan refleksi pikiran seorang hasil inetraksi dengan nilai nilai sosial
kultural yang menjadi medianya. Memiliki anak adalah salah satu tujuan
perkawinan atau pembentukan keluarga. Artinya setiap pasangan perkawinan
dipastikan ingin memiliki anak.
b. Dampak kelahiran terhadap
budaya
Pada dasarnya masyarakat mengkhawatirkan
masa kehamilanan persalinan. Masa kehamilan dan persalinan dideskripsikan oleh
Bronislaw Malinowski menjadi fokus erhatian yang sangat penting dalam kehidupan
masyarakat. Ibu hamil dan yang akan bersalin dilindungi secar adat, religi, dan
moral dengan tujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi. Merka menganggap masa
tersebut adalah masa kritis karena bisa membahayakan janin atau ibunya. Masa
tersebut direspon oleh masyarakat dengan strategi-strategi seperti dalam
upacara kehamilan, anjuran, dan larangan secara tradisional.
Budaya pantang pada ibu hamil sebenarnya
justru merugikan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Misalnya ibu
hamil dilarang makan telur dan daging, padahal telur dan daging justru sangat
diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil dan janin. Berbagai
pantangan tersebut akhirnya menyebabkan ibu hamil kekurangan gizi seperti
anemia dan kurang energi kronis (KEK). Dampaknya, ibu mengalamipendarahan pada
saat persalinan dan bayi yang dilahirkan memiliki berat badan rendah (BBLR)
yaitu bayi lahir dengan berat kurang dari 2,5 kg. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi
daya tahan dan kesehatan si bayi.
c. Dampak kelahiran terhadap moral dan
agama
Adapun moralitas artinya keadaan
nilai-nilai moral dalam hubungan dengan kelompok sosial. Moral juga diartikan
sebagai karakter atau watak seseorang, perkembangan moral dan agama pada anak
usia dini dapat diambil kesimpulan sebagai perubahan psikis yang dialami oleh
anak usia dini terkait dengan kemampuannya dalam memahami dan melakukan
perilaku yang baik serta memahami dan menghindari perilaku yang buruk berasarkan
ajaran agaa yang diyakininya.
10. Peran Orang Tua Terhadap Perkembangan Janin dalam
Kandungan
Berikut ini
adalah beberapa peran orang tua terhadap perkembangan janin dalam kandungan
yaitu, sebagai berikut:
a.
Mendidik
anak walau masih di dalam kandungan.
b.
Memperhatikan
asupan makanan
c.
Memeriksakan
kandungan
d.
Memperbanyak
do’a dan rasa bersyukur.
e.
Menjaga
emosi
11. Pendidikan Dalam Kandungan
Pendidikan dimasa prenatal
diakaitkan dengan presepsi pendengaran bayi. Pendengaran berkembang pada
sekitar usia kehamilan 6 bulan dan diketahui dengan baik bahwa janin dapat
menyerap dan merespon suara, seperti wicara dan musik. Pengenalan dan prefensi
terhadap suara ibu pada bayi-bayi baru lahir ditengarai merupakan respon yang
dipelajari berdasarkan pengalaman prenatal. Berbagai studi penelitian juga
menunjukan bahwa bayi yang baru lahir dapat mengenali musik atau prosa yang
telah dipaparkan kepada mereka semasa dalam kandungan, yang menunjukan
perkembangan keterampilan-keterampilan kognitif seperti memori sebelum lahir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar